Pendidikan dan pengobatan gratis, tunggu apalagi?

•Desember 6, 2007 • 24 Komentar

Kalo anda jeli melihat iklan di TV-TV, sekarang kampanye pilkada sudah jor-joran pake iklan di media TV nasional untuk mempublikasikan materi misi para kandidat calon kepala daerah tersebut. Tidak tanggung-tanggung butuh duit banyak untuk mengiklankan dirinya di TV Nasional itu.

Dan akupun melihat merekapun membawa visi dan misi yang hampir sama untuk semua kandidat peserta pilkada itu. Yaitu Pengobatan gratis dan Pendidikan gratis, atau paling minimal ada yang membawa istilah murah untuk kedua-duanya.

Mulai dari Pasangan Calon Gubernur Sulawesi Selatan, Calon Bupati di salah satu Kabupaten di Sulawesi Tenggara, Calon Kepala Daerah di salah satu daerah di Kalimantan, dan terakhir aku melihat kampanye salah satu calon bupati Bojonegoro, Jawa Timur.

Calon-calon itu telah menyentuh sisi perasaan rakyatnya dalam kampanyenya itu, sehingga mau tidak mau harus diwujudkan.

Tidak perlu ada lagi kalimat-kalimat “sedang diusahakan”, “memenang sulit mewujudkan anggaran 20 % untuk pendidikan”, “pendidikan juga butuh duit”, dan berbagai alasan-alasan klise yang akan kita dengarkan ketika mereka sudah merebut posisi kepala daerah itu.

Kalau semua calon kepala daerah mempunyai komitmen yang sama dalam peningkatan kesejahteraan buat rakyat, melalui kesehatan dan pendidikan tunggu apalagi, saling bersinergi dalam membangun bangsa ini.

Stress ke internet aje!

•Desember 3, 2007 • 36 Komentar

Hari ini banyak tekanan, dari semua sisi, ngak tau napa hari ini terasa puncak dari stressku. Segala ilmu yang ku pelajari dan pernah ku berikan ke orang lain tidak mampu menghilangkan stress ini. Apa memang stress itu berat banget yah? emang di kata mudah tapi dilakukan sulit banget.

Ketika tekanan itu datang membuatku stress ada 2 pelarianku makan dan internet. Makan karena aku biasa melampiaskan kekesalanku sama makan dan internet karena aku bisa merasakan nikmatnya teman di internet.

Moga krisis dihilangkan dan dilancarkan kegiatanku.

*tapi koq aku tetap merasakan stress berat 😦 *

Makan bangkai!

•Desember 1, 2007 • 21 Komentar

+ : Maaf mas yah, minumnya ngak manis, sengaja dikurangi gulanya karena kamu makannya di situ.
– : hah?

———————————————————

+ : hati-hati makan di situ, itu banyak yang makan di situ gara-gara dia pake guna-guna.
– : masa sih bu?

———————————————————

x : aduh tanganku gatal, kayaknya ibu itu menaruh sesuatu di lemari jualanku.
– : oh yah? gatal bukan dari situ kali.

———————————————————

+ : Kamu makan di situ yah?
– : iya
+ : makan mie yah? airnya itu loh ngak pernah diganti…
– : ngak makan mie koq
+ : oh kamu lagi makan sate usus itu yah? wah itu kalo ndak habis hari ini, besok dijual lagi, berarti kamu makan bangkai dong.
– : hehhee

———————————————————

yah amfun, aku jadi ngak enak makan tuh sate, gara-gara si ibu itu ngomong bangkai2 segala. Demikianlah segelintir dialog-dialog yang terjadi di wong cilik kita juga, yang ternyata mereka juga saling sikut menyikut, seperti orang-orang di pemerintahan sana.

Karakter kita beda kawan!

•November 29, 2007 • 6 Komentar

Suatu saat aku tersentak dengan perkataan anggota timku,

“Koq, kita tidak seperti tahun lalu yah tim kita, yang sering jalan-jalan, yang sering bercanda, yang sering makan-makan, dan betul-betul kekeluargaan deh, senang banget sama tim yang tahun lalu” katanya tanpa memikirkan perasaan aku yang menjadi pemimpin tim itu saat ini.

“Iyah emang ada baiknya kekeluargaan, tapi yang kerja keras yang pemimpinnya, anak buahnya ngak ngelakuin apa-apa, hanya beberapa saja yang berkembang”jawabku dalam hati.

Karakter kita beda kawan!

Karakteristik masing-masing tim dengan karakter orang berbeda tiap tim juga beda. Apalagi dibandingkan dengan periode yang berbeda. Karakter pemimpinnya juga beda, pola pikirnya juga beda. So tidak harus menonjolkan karakter yang sama dengan tahun kemarin. Namun memaksimalkan potensi yang ada, sehingga menjadikan tim itu menghasilkan sesuatu yang berarti.

Kita tidak selalu mencontohi, tetapi bagaimana mengembangkan potensi itu. Salah besar bila kita hanya sekedar mencontohi, kita akan terkungkung paradigma lama, tradisi lama yang akan menghancurkan isi tim kita.

Menghalang tradisi

Yah akhirnya kondisi dalam timku ini sengaja ku format beda dengan tahun lalu, prinsip untuk jarang melakukan makan-makan, senang-senang, dan beberapa perilaku yang memang wajar sih, tapi ada beberapa hal yang saya ingin tekankan.

  1. Adanya pengembangan potensi semua stafku, jadi bukan hanya pemimpin yang bekerja keras.
  2. Adanya prinsip pengorbanan, yah tim butuh pengorbanan baik waktu maupun materil, itu yang aku mau ajarkan ke stafku, bukan hanya senang-senangnya doang, seperti cerita-cerita masa lalu.
  3. Memberikan pengertian ke stafku bahwa tim satu dan tim yang lain itu beda, hanya dengan mengembangkan potensi masing-masing anggota tim itu baru disebut keberhasilan tim.
  4. Adanya prinsip kerja keras dalam tim.
  5. Adanya prinsip bahwa tanggung jawab bukan hanya di pemimpin tapi di seluruh anggota tim, so semua anggota tim harus bergerak.

Walaupun tujuan-tujuan dari tim tahun lalu tidak tercapai di tim ini, setidaknya mereka mempelajari bahwa karakter masing-masing tim itu berbeda.

 

Demo sebuah tindakan bukan contekan!

•November 27, 2007 • 24 Komentar

Aku tertarik menulis tentang aksi turun jalan atau unjuk rasa atau demonstrasi yang sering kita liat di televisi yang biasa digerakkan oleh para mahasiswa dan atau buruh, dan orang-orang lain. Parahnya siswa juga sudah melakukan aktivitas aksi ini tanpa mempertimbangkan kenapa aksi itu dilakukan.

Kita tidak perlu mencontohi tokoh-tokoh perjuangan kita di tahun 1966 bahwa mereka menjatuhkan rezin Orde Lama dengan demo, kita harus juga demo ketika ada penyelewengan. Ketika tahun 1998, ketika Orde Baru ditumbangkan dengan lengser keprabonnya Soeharto, kita tidak harus melakukan demo besar-besaran untuk mengkritik pemerintah.

Kawan, esensi dari aksi merupakan tindak lanjut dari hasil diskusi. Bukan hanya untuk demo di jaman dulu menjadi contekan di jaman sekarang untuk melakukan tindakan kritis terhadap pemerintah.

Itu punya esensi, jangan hanya nama besar aksi di tahun 1966 dan tahun 1998 atau gerakan people power di Philipina menjadi alasan kita melakukan aksi kawan.

Bukan karena film Gie yang memberikan semangat heroik kita sebagai generasi muda, namun kawan aksi merupakan tindak lanjut dari hasil pemikiran, apakah nantinya kita harus melakukan diskusi, melakukan seminar, sharing, hearing, atau sudah pantas untuk aksi turun jalan.

sekali lagi aksi turun jalan merupakan hasil dari pemikiran bukan asal-asalan untuk mencontek heroisme aksi turun jalan di zaman dahulu itu.

Kesalahan seorang pemimpin!

•November 26, 2007 • 14 Komentar

bro, katanya kamu juga trainer ma dia ya?
aq bisa minta tlg ga?
karena dia lagi ngedrop akhir2 ne, tlg bgt dunk, kalo pas acara2 training dy “lebih” diperingan, walau setahuku dia ga akan mau, tapi…. minta tlg ya…
sebisanya lah 🙂
thx abis b4
wass

pesan itu ada di salah satu inboxku, friend sori banget buat kalian berdua, aku baru baca setelah pelatihan selesai 4 hari lalu, padahal kamu kirim ini seminggu sebelum pelatihan itu.

Dan apa daya kejadiannya memang hal yang tidak diinginkan terjadi, temanku itu akhirnya ngundurin diri dari tim kami, tanpa menjelaskan ke aku permasalahan intinya. Itu hal yang paling menyedihkan bersama dia. karena aku sama teman-temanku di tim itu sudah berjalan hampir setahun untuk mengelola pelatihan ini tanpa dibayar tetapi dengan niat tulus kami untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada adik-adik kami.

Aku sebagai pemimpin dalam tim ini tidak lagi mampu memberikan yang terbaik buat tim ini, walau aku selalu menggembar-gemborkan ke peserta pelatihan itu untuk menjadi pemimpin yang baik selalu bisa kompak dan saling memahami dalam tim, tapi apa yang terjadi inilah.

Serasa aku blum mampu mampu memahami keluh kesah salah satu anggota timku. Belum mampu menjalan salah satu syarat jadi pemimpin adalah komunikasi.

Seperti inilah pengalaman buruk bagiku yang kembali terulang ketika aku memimpin sebuah bidang di salah satu organisasi, dengan jumlah staf lebih dari 20 orang itu saja, kemampuan komunikasiku ke mereka ternyata tidak sebagus dan seideal yang kuinginkan di awal aku memegang tampuk pimpinan di bidang itu.

Kawan kalo kalian jadi pemimpin, aku ingetin, pemimpin harus mampu memahami anak buahnya, komunikasi tentu kuncinya.

*sekedar berbagi kawan

The Dream begin!

•November 21, 2007 • 23 Komentar

Semalam gue chatting sama teman gue, gue lagi habis kolaps dari kegiatanku yang menguras tenaga dan fikiran. Kebetulan banget dia ngasih banyak semangat2 gitu, untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahku, yang sebenarnya sudah acakadul gini. Tapi besoknya sudah semangat lagi. Sebagai tanda munculnya semangat baruku itu, akhirnya ku posting tulisanku Itu hanya mimpi!

Paginya, sebelum kuliah, iseng buka daftar film-film lama yang blum gue nonton,”Goal” judulnya. Film ini sih udah lama keluar, kebetulan aja pengen nonton jadi gue nonton deh. Yah ampun, kebetulan banget, seperti apa yang ku posting sebelumnya. Persis benar Goal!The Dream Begins.

Film ini mengisahkan seorang pemuda imigran gelap dari Mexico yang tinggal di belahan Amerika Serikat sana, yang pandai banget bermain bola, namanya Santiago Munez. Dia kemudian diliat oleh salah seorang agen yang mantan pesepakbola Inggris itu.

Tapi apa hendak dikata, ayahnya tidak setuju, dia pengen anaknya kerja menjadi tukang kebun. Tapi akhirnya neneknya memberi jalan untuk ke Newcastle untuk mengejar cita-citanya.

Sampai di sana ternyata cobaan berat juga melandanya, berusaha payah untuk mendapatkan cita-citanya itu. Sampai akhirnya keahliannya diakui sama manajer dan dijadikan pemain inti dan memberikan peluang bagi Newchastle United untuk mengikuti kejuaraan Eropa.

Di satu sisi ternyata dibalik kekerasan ayahnya yang tidak menyetujui anaknya terjun ke dunia sepakbola, ayahnya tetap merasa si Santiago ini menjadi orang yang berhasil.

Refleksi Diri

Suatu kebanggaan tersendiri buat seorang anak bisa memberikan yang terbaik dari dirinya untuk orang yang dikasihi seperti orang tua. Begitu pula denganku. Film “Goal” itu betul-betul mencerminkan diriku yang awalnya orang tuaku, ayah ibu, tidak merestui keinginanku untuk kuliah.

Tapi dengan keras kepalaku tetap melanjutkan kuliahku ini. Dan pada akhirnya ku bisa membuat orang tuaku bahagia, menunjukkan kebanggaan-kebanggaan itu bukan hanya mimpi untuk diceritakan. Tapi kenyataan yang telah terwujud.

Betapa bahagianya orang tuaku itu melihat, berkat kuliah di kampus gue sekarang, gue kenal banyak orang, dari teman kuliah, teman beda fakultas, teman2 beda kampus, sama pihak birokrasi kampus dari dekanku sampe rektorku dan wakil-wakilnya. Gue pernah ketemu sama Menteri RI dan bapak Menteri itu juga mengenalku dengan baik karena menang kita sering bertemu muka dan berurusan. Gue juga pernah ketemu dengan beberapa pejabat-pejabat, itupun dikenalkan sama pihak kampusku. Atas aktivitasku di kampus gue pernah dapat beasiswa selama kuliah di kampus ini. Atas prestasi itu gue pernah ke luar negeri merasakan indahnya jadi bule di negara orang. Semua prestasi-prestasi itu tidak lepas dari doa orang tuaku, yang sampai saat ini masih mendukungku.

Kawan mimpi itu bukan untuk dimimpikan tetapi diwujudkan.

The Dream Begin!