Demo sebuah tindakan bukan contekan!

Aku tertarik menulis tentang aksi turun jalan atau unjuk rasa atau demonstrasi yang sering kita liat di televisi yang biasa digerakkan oleh para mahasiswa dan atau buruh, dan orang-orang lain. Parahnya siswa juga sudah melakukan aktivitas aksi ini tanpa mempertimbangkan kenapa aksi itu dilakukan.

Kita tidak perlu mencontohi tokoh-tokoh perjuangan kita di tahun 1966 bahwa mereka menjatuhkan rezin Orde Lama dengan demo, kita harus juga demo ketika ada penyelewengan. Ketika tahun 1998, ketika Orde Baru ditumbangkan dengan lengser keprabonnya Soeharto, kita tidak harus melakukan demo besar-besaran untuk mengkritik pemerintah.

Kawan, esensi dari aksi merupakan tindak lanjut dari hasil diskusi. Bukan hanya untuk demo di jaman dulu menjadi contekan di jaman sekarang untuk melakukan tindakan kritis terhadap pemerintah.

Itu punya esensi, jangan hanya nama besar aksi di tahun 1966 dan tahun 1998 atau gerakan people power di Philipina menjadi alasan kita melakukan aksi kawan.

Bukan karena film Gie yang memberikan semangat heroik kita sebagai generasi muda, namun kawan aksi merupakan tindak lanjut dari hasil pemikiran, apakah nantinya kita harus melakukan diskusi, melakukan seminar, sharing, hearing, atau sudah pantas untuk aksi turun jalan.

sekali lagi aksi turun jalan merupakan hasil dari pemikiran bukan asal-asalan untuk mencontek heroisme aksi turun jalan di zaman dahulu itu.

Iklan

~ oleh GRaK pada November 27, 2007.

24 Tanggapan to “Demo sebuah tindakan bukan contekan!”

  1. Pertamaxx 😈
    Demonstrasi itu bentuk dari pengungkapan aspirasi, dan itu sah-sah aja, selama tidak anarkhis 😉

  2. extremusmilitis : itu yang harus ditekankan bahwa itu merupakan pengungkapan aspirasi.
    Jangan ketika ditanya
    “ngapain demo?”
    “yah seperti aksi tahun 1998 dan 1966 untuk menkritisi pemerintah”
    nah seakan2 itu hanya contekan masa lalu, tidak difikir kenapa harus aksi!

  3. kalo demo masak udah ada sejak jaman kpn ya..

  4. kemarin (27 nov 07) anak-anak yellow jacket demo didepan MA, ada yang tau mereka demo apaan yah?

  5. nah cuman di Indo ini deh keknya apa apa gampang di demo, dan sayangnya sering diakhiri dengan kericuhan 😦

  6. @klikiri : sudah lama emang 😀

    @verlita : wah kurang tau, kayaknya demo disahkannya RUU BHP.

    @aprikot : iyah, makanya itu aku tuh ngak setuju, apa2 itu didemo, ada cara lainnya, demo memang salah satu jalannya, bukan jalan langsungnya.

  7. bener.
    sebaiknya dipikirin matang2 dulu sebelum melakukan aksi..
    salah2, kita cuma dapet capek plus berhasil mengganggu lalulintas saja..

  8. 😈 walah demo pake kekerasan…
    kurang kerjaan..

    *btwgwmasihdendamloh…* 😈

  9. wah,blog yang kereen…
    salam kenal yah [pinky]….
    kalau menurut saya sih, sepakat2 ajah….
    selama demonstrasi itu g anarkis, dan g ikut2an doank…
    semua elemen yang ikut, hukumnya wajib mengetahui apa yang sedang diperjuangkan….

    intinya sih, berpikirlah sebelum bertindak…
    bila perlu hari ini berpikir mati2an…
    keesokan harinya saatnya bertindak 🙂

  10. yang pasti saya suka demo yang satu itu, yaitu demo masak…

  11. morissupersaiya™ : yup, kalimat kuncinya itu.

    myresource : iyah kurang kerjaan, btw aku ngak ngejelasin tentang kekerasan di demo loh.
    *walah masih dendam toh, hahaha*

    pinkyangga : terima kasih y.
    iyah benar sekali, itu yang aku maksudkan.
    terima kasih sudah berkunjung.

    cK : wanita, hobinya emang gitu 😀

  12. Dukung demonstrasi damai!
    Karena Indonesia butuh perubahan..

  13. Hati hati loh mas ikut2an demo, Ade pernah lihat mahasiswa terinjank injak waktu ikut demo… Duh, gak tega.

    -Ade-

  14. qzink666 : iyah sepakat, demo yang intelek.

    SayapKu : iyah, aku udah pernah ikut beberapa aksi yang mulai damai sampai anarkhis, untuknya ngak apa2, dari semua aksi itu aku belajar semua hal, termasuk yang aku tuliskan.

  15. apdett…!!! 👿

    *bakar ban bekas*

  16. sip sip… opini yang bagus. Memberi sudut pandang lain dari sebuah demo. Secara garis besar setuju aku 🙂

  17. @ celo :apdet apa hehhe :), kalo bakar ban bekas ngak boleh loh, kejadiannya tuh hari temanku ditangkap gara2 itu. *padahal aku sama dia emang rencana bakar ban itu, spy kayak demo2 itu, tapi jadi nyesal juga tindakan2 yang sbenarnya ngak perlu di aksi*

    @ alief : iyah aku heran aja, kenapa aksi begitu dimudahkan, padahal manurutku dalam kondisi organisasi mahasiswa itu tindakan yang menurutku paling akhir.

  18. Demo itu wajar karena kita hidup di alam demokrasi.
    Akan tetapi, bukan berarti “demokrasi” merupakan pilihan yang terbaik. Ia adalah bentuk yang paling baik di antara yang jelek.
    Pertanyaannya: apakah semua demo itu “murni”?
    Jawabannya: tidak semua demo berangkat dari hati nurani demonstran.
    Banyak demo yang dibayar oleh seseorang/kelompok yang punya kepentingan.
    Demokrasi??? Ya. Demokrasi bagi kalangan yang sudah berkecukupan; bisa makan tiga kali sehari, kalo sakit bisa berobat, bisa sekolah/kuliah di tempat yang dikehendaki, punya asuransi, dan kebutuhan pokok+lux lainnya.
    Bagi mereka yang betul-betul demo dari hati nurani, buat apa “demokrasi”? Mereka cuma bisa teriak hingga suara mereka serak……
    “Demokrasi serak” atau “demokrasi retak” namanya.
    Namun, bagi mereka yang tidak berkecukupan, kita harus bantu….

    Justru itu, demo wajar jika disuarakan dengan benar & tidak anarkhis.

    Salam

  19. *wah semangat banget nulisnya mas, salut*
    iyah mas, sepakat dengan komentar mas, tapi yang sy tekankan di sini itu, jangan asal demo aja.
    ketika ada masalah demo, yah itu salah satu cara, dan memang hasil dari pemikiran atau diskusi.

  20. sejak reformasi sampai sekarang semua itu hanya euforia belaka, sudah tidak lagi punya nyawa, apalagi banyak pesan sponsor, hati-hati kawan!

  21. zam : iyah benar, euforia sesaat, yang ngak difikir matang 🙂

  22. anehnya ada yang menjadikan demo ini sebagai sumber pendapatan lho!!!

  23. deT : sapa tuh? laporkan! 🙂

  24. hi,…
    aku cuman numpang lewat aja…
    sekalian meninggalkan bekas..
    kalo mau melihat pemerintahan yang bersih dan hanya berisi politikus yang benar2 berjuang demi rakyat nya, bisa dilihat di dorama jepang judulnya “CHANGE”. Pemain utamanya Takuya Kimura.
    Pokoknya film itu ok banget deh…
    Misinya adalah “There is no necessary evil in this world”. Saya cuma merekomendasikan..hehehe…
    Thanks ya sudah dikasi numpang lewat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: