Mahasiswa korupsi!

Kalau anda sering beraktivitas di kegiatan kemahasiswaan, pasti mau tidak mau mengetahui alur dari sistem keuangan yang diberlakukan baik organisasi mahasiswa itu ataupun ketentuan dari pihak rektoratnya.

Selama ini yang aku ketahui ada 2 sistem yang digunakan oleh pihak kampus dan mahasiswa dalam mengatur budget keuangannya, yaitu :

  1. Sistem pemberitauan lebih awal jumlah anggaran keuangan buat suatu organisasi itu untuk tahun yang dianggarkan.
  2. Sistem yang tidak diberitau persis jumlah anggarannya, yang penting disesuaikan dengan proposal yang masuk ke meja rektorat, nantinya dilihat sama pihak rektorat, layak tidaknya diajukan dan diberi dana.

Aku akan menceritakan hal yang kedua tapi tidak menutup kemungkinan akan berlaku juga di sistem yang pertama.

Untuk mendapatkan uang dari rektorat sang bendahara kegiatan ataupun organisasi harus membuat kuitansi tentang pengeluaran uang, padahal kegiatannya belum berlangsung, dan memang sudah membutuhkan minimal untuk rapat-rapat awal, atau biaya DP (uang muka red), dan atau yang lain-lainnya deh. Yah sibuklah sang bendahara ini mencari kuitansi dan ngeprint dalam beberapa lembar kuitansi dan mencari stempel-stempel yang asli tapi tanpa pemilik sahnya.

Kenapa tidak diberikan uang saja, nanti dibuatkan surat serah terima uang sebagai dana awal, kuitansinya menyusul setelah uang itu dipakai dengan meminta kuitansi pembelian atau pembayaran. Tapi ternyata tidak demikian sodara, katanya ini sudah ketentuan yang berlaku, harus ada kuitansi dulu baru ambil uang. Aturan mana itu? Memang sih aturan itu untuk laporanpertangungjawaban pemeriksaan dari BPK ataupun lembaga penyidikan keuangan lainnya. Tapi koq dipalsukan? Mestinya kan pencatatan sesuai dengan pengeluaran.

Mau gimana ambil duit kalau tidak menggunakan mekanisme itu? Mahasiswa dipinjam duitnya dulu yah? ah ngak bisa gitu dong, mahasiswa loh belum kerja, masak jadi bank.

Sekali lagi mahasiswa dipaksa mengikuti sistem!!

Jikalau sudah berakhir kegiatan, biar dana yang disetujui (di ACC red) tidak sebanyak yang dikeluarkan, mau tidak mau mahasiswa itu harus menyiapkan kuitansi lagi untuk mengambil sisa uang dari anggaran dana yang disetujui itu oleh pihak kampus, yang belum diambil dari mereka.

Loh koq bisa? berarti kuitansi palsu lagi dong? mau gimana lagi kalau tidak mengambil sisa uang itu, bagaimana menghidupi organisasi yang memang butuh anggaran-anggaran lain, misalnya makan-makan rapat non kegiatan, bersih-bersih yang butuh uang walau sedikit, upgrading pengurus, dan beberapa kegiatan kecil tapi esensial yang tidak membutuhkan proposal. Karena semua uang yang akan diberikan jika ada proposal dan kuitansinya.

Mana lagi uang yang di rektorat ataupun di pihak dekanat maupun jurusan memang adalah duit mahasiswa, dari SPP yang sudah barang tentu ada persentase untuk kegiatan mahasiswa, jadi mahasiswa berhak menuntut haknya untuk mendapatkan uang untuk kegiatan organisasinya.

Ini mahasiswa dipaksa belajar korupsi oleh sistem yang berlaku? atau mahasiswa diajari korupsi? atau memang mahasiswa mau korupsi demi organisasinya?

Siapa yang salah? mahasiswanya kah? rektoratnya kah? sistemnya kah? atau tradisinya kah?

Pertanyaan mahasiswa yang mempertanyakan idealisme kemahasiswaaan!

Iklan

~ oleh GRaK pada November 4, 2007.

19 Tanggapan to “Mahasiswa korupsi!”

  1. semua salah…. πŸ™‚

  2. yah kayaknya, tapi kira2 solusi yg tepat buat permasalahan ini apa yah?

  3. filter!

    dengan resiko dianggap pembunuhan karakter dan musuh bertambah, MAHASISWA-nya duluan yang mesti ‘ditampar’. Publikasikan saja sikon demikian, kalo ada bukti otentik, lampirkan sekalian dgn nama oknum-oknum™ -nya.

    Mahasiswa begitu itu sama saja seperti duri dalam daging. Nanti saat ganti posisi orang2 yang sekarang pegang kekuasaan, mereka cuma akan jadi boneka baru dengan wajah baru tapi akal bulus yang usang…

    *just my gocap* πŸ˜‰

  4. yup! idem sama alex, kalo emang ndak difangkas samfe ke akar-akarna, ya mesti tumbuh lage…
    kek fenyakid kista (?), mesti diamfutasi sekalian, darifada ntar nyebar kemana-manah

  5. alex & hoek <=
    yah kalau mahasiswa dipangkas silahkan. tapi kalau sistemnya mewajibkan begitu (maksudnya aturan pengambilan uang dari pihak rektorat) gimana dong?
    padahal itukan juga hak mereka untuk menggunakannya.

  6. Korupsi itu emang asik ya?
    Susah-susah gampang
    πŸ˜†

  7. πŸ˜†
    yah ngak asik lah, dikejar2 sama dosa πŸ˜›

  8. makanya, menikmati alam saja..
    lebih enak. bikin hati damai..
    hehehe..
    :mrgreen:

  9. kalau emang mahasiswa-nya punya hati, punya otak, dan punya rasa, kenapa ndak sekalian di-lawan?
    kok malah ngikut ke sistem? takut apa?

  10. morishige <=
    iyah menikmati alam, seperti yang aku rasakan sekarang πŸ™‚

    extremusmilitis <=
    kayaknya sih gitu, masih takut, mo gimana kalo protes pasti ngak dapat apa2 😦
    yah semoga mereka bisa melawan lah πŸ™‚

  11. Hehehehe inilah (mungkin) yang namanya pendidikan terintegrasi, dimana semua ilmu “praktis” (di dunia sesungguhnya) bisa diperoleh.

  12. Hmmmm…. sepertinya agak aneh ya? Mahasiswa yang seharusnya ‘intelek’ seharusnya lebih mengerti dan ‘tidak mudah dibohongi’ oleh sistem yang ingin ‘mengajarkannya’ korupsi. Jadi memang alternatif kesimpulannya dua:
    – Mahasiswa tersebut ‘mudah dibohongi’ (polos) oleh sistem yang menginginkannya menjadi mahasiswa korup, atau
    – Memang mahasiswa tersebut sangat menikmati sistem yang korup tersebut sehingga cuek aja.

    Wah, kalau udah begini, susah ya?? 😦

  13. contoh kecil saja, dana bantuan skripsi. tidak prnh secara transparansi diberikan breakdown itemnya. mahasiswa dipaksa menerima dlm jumlah tertentu, klo ngga mau ya sudah. pdhl setahu saya selama 1 smester tiap sehrusnya dana bantuan trsebut diberikan perbulan, lah ini malah dikahir2 skripsi bru diberikan.

    aneh

  14. deking <=
    benar jua, semua tersistemkan dalam bingkai yang seperti itu πŸ™‚
    Yari NK <=
    bisa disimpulkan seperti itu.
    Pernah aku tanyakan kenapa harus begitu, dan semuanya menjawab kita memang menggunakan sistem itu, setidaknya bukan untuk kita duitnya, tapi organisasi.
    aprikot <=
    oh gitu ternyata, yah coba dikalkulasi dan dihitung.
    yah semua terciptakan sama sistem yang salah, padahal sudah ada BPK, ataupun lembaga pengaudit yang bisa memberikan cara terbaik menyajikan ataupun menggunakan uang apalagi uang negara πŸ™‚

  15. yang salah..udah dipenjara nampaknya, tapi yang berlagak bener masih berkeliaran . wakakaka

  16. regsa <=
    yang salah udah kamu bisa tentukan?
    yang berlagak benar yang mana? mahasiswa yah?
    hehehe πŸ™‚

  17. brainian

  18. kalo saya tidak melihat itu uang dari rektorat.
    uang itu MURNI DARI TEMAN2 SESAMA MAHASISWA, yang bayar tiap semester dan dikenakan biaya tambahan UANG KEGIATAN MAHASISWA.

    harusnya mereka harus tanggung jawab pada stakeholder (sesama mahasiswa).

    mahasiswa yg bayar uang itu tidak pernah tau, uang itu dipakai untuk apa saja, kegiatan apa saja, diboros2kan atau tidak, dll….

    dugaan saya sebelum lulus adalah, uang itu dipakai secara tidak benar, karena mereka tidak bertanggung jawab dengan cara mengumumkan laporan keuangan seluruh kegiatan mahasiswa yang ada dengan jumlah dana yang ada

    namanya juga mahasiswa, nilep2 kan pinter juga, walopun blm lulus tapi udah pinter nilep juga

    jangan maen2!

    DANA KEGIATAN MAHASISWA itu besar…. dan harus dipertanggung jawabkan oleh yang PAKAI DANA ITU.

  19. Nice Article, keep up posting, good job.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: