Hidup kembali

•Juni 28, 2008 • 4 Komentar

Setelah sekian lama menutup blog ini, saya berencana untuk menghidupkan blog ini kembali dengan ide-ide segar saya yang selalu ingin dimuntahkan dengan berupa tulisan-tulisan. Apakah nanti tulisan itu masih setengah matang atau sudah matang.

blog ini saya tutup!

•April 5, 2008 • 4 Komentar

Mohon maaf karena kesibukan, gue menutup blog ini.

Sampai ketemu dilain kesempatan!

Membahasakan Agama

•Desember 27, 2007 • 16 Komentar

Masing-masing agama memiliki cara tersendiri untuk memberikan penjelasan kepada umatnya tentang keyakinan dan dasar-dasar keimanan yang dimiliki agama itu.

Tapi banyak orang salah kaprah, orang menjelaskan agama A dengan kapasitas untuk umat agama A tapi ternyata dia menyebarkan ke agama B. Demikian sebaliknya, konsumsi pemberitaan tentang agama A tidak disampaikan secara menyeluruh kepada A.

Sebagai contoh :

“Umat muslim dilarang memakan babi itu haram” (khusus buat umat Islam)

“Umat hindu dilarang memotong sapi” (khusus buat umat hindu tentunya)

tentunya yang diharamkan itu adalah umat yang agama Islam, dan yang dilarang itu umat hindu, bukan ditujukan sama agama lain. Kadang sering terjadi interpretasi yang salah, malah umat lain yang berceloteh keras ketika suatu pernyataan yang sebenarnya ditujukan ke bukan umatnya itu.

Beberapa bahasan di dunia blogsphere kadang terlalu menyudutkan suatu agama, padahal imbauan itu diberikan kepada umat tertentu bukan seluruhnya. Kadang imbauan diberi untuk kalangan tertentu tetapi kenapa semuanya pada marah.

Larangan yang diberikan suatu agama kadang diinterpetasikan beda pula oleh umatnya, karena ilmu yang dia dapat hanya sedikit jadi kemampuan memberikan makna hanya sebatas fikirannya.

Jarang kita berfikir jernih dalam menyikapi permasalahan-permasalahan agama yang sering dilontarkan. Semisal

“Sekelompok umat melarang menonton doraemon karena banyak hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak memiliki keyakinan mendasar”

Disikapi dengan memberikan perlawanan, terhadap pernyataan itu. Padahal kita harusnya bersikap positif bahwa ternyata umat itu melarang karena beberapa poin yang aku rasa emang benar adanya. Itu yang harus kita sadari menyikapi permasalahan dengan bijak. Tapi memang kita tidak serta mert mendukung pernyataan itu.

Semisal mengeritik tentang film Indonesia, kita pada rame-rame mencak-mencak Film Indonesia jelek banget, terlalu dibuat-buat, berlebihan, dll. Tapi apa daya ternyata itu memberikan nilai-nilai sosial dengan adanya peran protagonis yang dermawan, nilai semangat dengan tokoh2 yang dulunya hanya seorang kecil ternyata bisa kaya raya dengan kerja keras. Semua itu ada nilai-nilai positifnya.

Tiba-tiba ada sekelompok orang yang memberikan larangan menonton Film Indonesia, apakah kita turut serta membanting stir untuk membela Film2 itu? bahwa memberikan tontonan sosial, kerja keras, dan lain-lain.

Semua orang memiliki pendapat berbeda tentang sesuatu hal, negatif dan positif.

Sedemikian pula lah semua kantun dan sebagainya jika ada sekelompok orang memberikan larangan menonton kartun itu wajar karena mereka menilai ada nilai-nilai negatif yang dilihatnya, walau kadang sisi positif tidak bisa dihilangkan.

Harapanku tidak muluk-muluk cukup untuk bersikap bijak melihat positif dan negatifnya suatu permasalahan, jadi tidak subjektif dan tidak emosional.

FFI vs MFI!

•Desember 15, 2007 • 20 Komentar

Saya bukan insan perfilman Indonesia, namun saya cukup senang melihat pekembangan film-film Indonesia yang sudah bangkit dan sudah menunjukkan kualitasnya, apalagi dengan pemain senior dipadupadankan dengan pemain junior, cukup klop. Apalagi Sutradaranya yang mantap punya.

Malam lalu saya melihat Festival Film Indonesia 2007 digelar di salah satu TV swasta Indonesia. Cukup menarik walau tidak semeriah ketika diadakan di Jakarta. Terlihat beberapa pemenang tidak hadir untuk menerima penghargaan itu, walau ada beberapa yang memang sibuk, tetapi juga ada juga memang niat ngak datang.

Seperti yang diberitakan beberapa hari sebelum pengumuman MFI (Masyarakat Film Indonesia) menyatakan Pernyataan sikapnya bahwa beberapa orang yang dinominasikan mencabut diri.

Kita memang sadar bahwa pelaksanaan FFI 2006 memang memiliki kejanggalan, dan saya mendukung MFI waktu itu, tapi setidaknya panitia sudah mendapatkan pelajaran dari situ. Apalagi juri-juri sekaliber putu wijaya, didi petet, garin nugroho, dll. Gimana mereka bisa memberikan penilaian buruk seperti pandangan terhadap FFI sebelumnya. Orang-orangnya sekaliber itu.

Di salah satu media cetak nasional, MFI menyatakan bahwa penolakan itu terkait dengan pemborosan dana. Alasan tidak logis bagi saya karena memang untuk memberikan penghargaan butuh dana.

Saya sebagai penikmat film Indonesia atau masyarakat Indonesia lainnya malah melihat mereka terlalu arogan untuk bekerja sama untuk membangkitkan film-film Indonesia. Apa kata masyarakat Indonesia melihat malam penganugrahan itu?

MFI berkata di penyataan sikapnya mereka menginginkan “sebuah festival yang jernih, transparan, independen, dan bervisikan majunya industri film nasional juga bagian dari perjuangan kami” tapi gimana kalau selama ini hanya mampu menolak, tapi tidak bisa menatap FFI ini menjadi ajang buat mereka bersatu.

Sudahlah silahkan para insan perfilman itu sama-sama urung rembuk memecahkan masalah ini, karena masyarakatlah yang menilai semua ini, secara saya termasuk masyarakat itu.

Analisis Top 100 Indonesian Blogs

•Desember 14, 2007 • 25 Komentar

 

top100

Baru-baru ini indonesiamatters.com mengeluarkan daftar Top 100 Indonesia Blogs, ada beberapa hal yang kita bisa analisis dari daftar tersebut, walau cara yang digunakan menganalisis tidak se ilmiah ilmu yang ada, tetapi analisis sederhana ini dari pandangan seorang blogger pemula.

Data top 100 Indonesia blog itu berkembang setiap hari, dan blog yang masuk itupun harus didaftarkan dulu, tetapi sudah menjadi barometer di blogsphere blog mana yang paling tinggi tingkatan popularitasnya dari 6 parameter yang digunakan.

10 besar
Blog berbayar : 70 %
Wordpress : 10 %
Blogspot : 10 %
Goblogmedia : 10 %

20 besar
Blog berbayar : 50 %
Wordpress : 15 %
Blogspot : 30 %
Goblogmedia : 5 %

50 besar
blog berbayar : 56 %
Wordpress : 12 %
Blogspot : 30 %
Goblogmedia : 2 %

100 besar
blog berbayar : 46 %
Wordpress : 18 %
Blogspot : 34 %
Goblogmedia : 1 %
Blogsome : 1 %

Dari data itu terlihat bahwa Blog yang berbayar ternyata memiliki tingkat paling populer diantara penyedia blog yang gratis, walau pada tingkat 100 besar berkisar 46 %. Angka 70 % dalam 10 besar dipegang oleh blog berbayar, apakah ini menunjukkan bahwa blog yang top itu dimiliki oleh orang-orang menengah ke atas, atau harus membeli domain dan hosting untuk menjadi blog terpopuler untuk saat ini?

WordPress dan Blogspot, dua buah web menjadi pilihan utama dalam penyediaan blog gratis. Dan terlihat Blogspot memiliki tingkat lebih tinggi dari wordpress. Penyedia blog gratis lainnya blum bisa bersaing dalam pasaran blog Indonesia. Sedangkan Goblogmedia dan Blogsome, memiliki persetase yang sangat rendah digunakan. Goblogmedia itupun ada karena penggunaan adalah blogger terkenal sejak dulu dan dikenal juga sebagai Bapak blog Indonesia.

WordPress dan Blogspot, keduanya dipilih karena kemudahan aksesnya terutama kedua penyedia blog gratis ini menggunakan bahasa Indonesia sehingga lebih familiar untuk digunakan.

Walau dalam tingkatnya masih dikalah oleh blog berbayar setidaknya pasaran 54 % orang sudah menggunakan blog gratisan ini sebagai media mereka untuk ngeblog. Mampukan ke depan blog gratisan memiliki tingkat kepopuleran lebih tinggi ketimbang harus membeli domain atau hosting sendiri?

Data ini tidak akan akurat lagi karena perubahan setiap hari dari daftar tersebut. So pertanyaannya adalah apakah blog anda sudah didaftarkan di indonesiamatters, untuk mendongkrak presentase di atas? apakah anda mau beralih ke domain atau hosting berbayar? Apakah anda masih setia menggunakan blog gratis?

Ket : data top 100 Indonesia blogs diambil pukul 02.00 15 Desember 2007.

Menyalahkan diri sendiri!

•Desember 11, 2007 • 23 Komentar

Kadang manusia ketika gagal meraih sesuatu akan menyalahkan hal-hal lain, misalnya :
– orang lain
– properti
– alat
– alam
– gurunya
– temannya
– musuhnya
– komputernya
– hpnya
– pohon
– jalan yang rusak
– macet
– orang tuanya

Tapi siapa sangka yang menyebabkan kegagalan itu adalah diri sendiri, misalnya karena
– malas
– kurang kerja keras
– kurang motivasi
– suka bermain
– lepas tanggung jawab

Saatnya menyalahkan diri dan mengambil keputusan!

PS : foto diambil dari  sini

Ketika ancaman kegagalan itu datang!

•Desember 11, 2007 • 9 Komentar

Ketika ancaman kegagalan itu datang, hanya ada 2 cara untuk menyelesaikan permasalahan itu

1. Bekerja keras supaya terhindar dari kegagalan itu.

2. Pasrah menghadapi kegagalan itu, menunggu kesuksesan selanjutnya.

*memikirkan pilihan-pilihan yang sulit itu*

PS : gambar diambil dari sini

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.