Karakter kita beda kawan!

•November 29, 2007 • & Komentar

Suatu saat aku tersentak dengan perkataan anggota timku,

“Koq, kita tidak seperti tahun lalu yah tim kita, yang sering jalan-jalan, yang sering bercanda, yang sering makan-makan, dan betul-betul kekeluargaan deh, senang banget sama tim yang tahun lalu” katanya tanpa memikirkan perasaan aku yang menjadi pemimpin tim itu saat ini.

“Iyah emang ada baiknya kekeluargaan, tapi yang kerja keras yang pemimpinnya, anak buahnya ngak ngelakuin apa-apa, hanya beberapa saja yang berkembang”jawabku dalam hati.

Karakter kita beda kawan!

Karakteristik masing-masing tim dengan karakter orang berbeda tiap tim juga beda. Apalagi dibandingkan dengan periode yang berbeda. Karakter pemimpinnya juga beda, pola pikirnya juga beda. So tidak harus menonjolkan karakter yang sama dengan tahun kemarin. Namun memaksimalkan potensi yang ada, sehingga menjadikan tim itu menghasilkan sesuatu yang berarti.

Kita tidak selalu mencontohi, tetapi bagaimana mengembangkan potensi itu. Salah besar bila kita hanya sekedar mencontohi, kita akan terkungkung paradigma lama, tradisi lama yang akan menghancurkan isi tim kita.

Menghalang tradisi

Yah akhirnya kondisi dalam timku ini sengaja ku format beda dengan tahun lalu, prinsip untuk jarang melakukan makan-makan, senang-senang, dan beberapa perilaku yang memang wajar sih, tapi ada beberapa hal yang saya ingin tekankan.

  1. Adanya pengembangan potensi semua stafku, jadi bukan hanya pemimpin yang bekerja keras.
  2. Adanya prinsip pengorbanan, yah tim butuh pengorbanan baik waktu maupun materil, itu yang aku mau ajarkan ke stafku, bukan hanya senang-senangnya doang, seperti cerita-cerita masa lalu.
  3. Memberikan pengertian ke stafku bahwa tim satu dan tim yang lain itu beda, hanya dengan mengembangkan potensi masing-masing anggota tim itu baru disebut keberhasilan tim.
  4. Adanya prinsip kerja keras dalam tim.
  5. Adanya prinsip bahwa tanggung jawab bukan hanya di pemimpin tapi di seluruh anggota tim, so semua anggota tim harus bergerak.

Walaupun tujuan-tujuan dari tim tahun lalu tidak tercapai di tim ini, setidaknya mereka mempelajari bahwa karakter masing-masing tim itu berbeda.

 

Demo sebuah tindakan bukan contekan!

•November 27, 2007 • & Komentar

Aku tertarik menulis tentang aksi turun jalan atau unjuk rasa atau demonstrasi yang sering kita liat di televisi yang biasa digerakkan oleh para mahasiswa dan atau buruh, dan orang-orang lain. Parahnya siswa juga sudah melakukan aktivitas aksi ini tanpa mempertimbangkan kenapa aksi itu dilakukan.

Kita tidak perlu mencontohi tokoh-tokoh perjuangan kita di tahun 1966 bahwa mereka menjatuhkan rezin Orde Lama dengan demo, kita harus juga demo ketika ada penyelewengan. Ketika tahun 1998, ketika Orde Baru ditumbangkan dengan lengser keprabonnya Soeharto, kita tidak harus melakukan demo besar-besaran untuk mengkritik pemerintah.

Kawan, esensi dari aksi merupakan tindak lanjut dari hasil diskusi. Bukan hanya untuk demo di jaman dulu menjadi contekan di jaman sekarang untuk melakukan tindakan kritis terhadap pemerintah.

Itu punya esensi, jangan hanya nama besar aksi di tahun 1966 dan tahun 1998 atau gerakan people power di Philipina menjadi alasan kita melakukan aksi kawan.

Bukan karena film Gie yang memberikan semangat heroik kita sebagai generasi muda, namun kawan aksi merupakan tindak lanjut dari hasil pemikiran, apakah nantinya kita harus melakukan diskusi, melakukan seminar, sharing, hearing, atau sudah pantas untuk aksi turun jalan.

sekali lagi aksi turun jalan merupakan hasil dari pemikiran bukan asal-asalan untuk mencontek heroisme aksi turun jalan di zaman dahulu itu.

Kesalahan seorang pemimpin!

•November 26, 2007 • & Komentar

bro, katanya kamu juga trainer ma dia ya?
aq bisa minta tlg ga?
karena dia lagi ngedrop akhir2 ne, tlg bgt dunk, kalo pas acara2 training dy “lebih” diperingan, walau setahuku dia ga akan mau, tapi…. minta tlg ya…
sebisanya lah :)
thx abis b4
wass

pesan itu ada di salah satu inboxku, friend sori banget buat kalian berdua, aku baru baca setelah pelatihan selesai 4 hari lalu, padahal kamu kirim ini seminggu sebelum pelatihan itu.

Dan apa daya kejadiannya memang hal yang tidak diinginkan terjadi, temanku itu akhirnya ngundurin diri dari tim kami, tanpa menjelaskan ke aku permasalahan intinya. Itu hal yang paling menyedihkan bersama dia. karena aku sama teman-temanku di tim itu sudah berjalan hampir setahun untuk mengelola pelatihan ini tanpa dibayar tetapi dengan niat tulus kami untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada adik-adik kami.

Aku sebagai pemimpin dalam tim ini tidak lagi mampu memberikan yang terbaik buat tim ini, walau aku selalu menggembar-gemborkan ke peserta pelatihan itu untuk menjadi pemimpin yang baik selalu bisa kompak dan saling memahami dalam tim, tapi apa yang terjadi inilah.

Serasa aku blum mampu mampu memahami keluh kesah salah satu anggota timku. Belum mampu menjalan salah satu syarat jadi pemimpin adalah komunikasi.

Seperti inilah pengalaman buruk bagiku yang kembali terulang ketika aku memimpin sebuah bidang di salah satu organisasi, dengan jumlah staf lebih dari 20 orang itu saja, kemampuan komunikasiku ke mereka ternyata tidak sebagus dan seideal yang kuinginkan di awal aku memegang tampuk pimpinan di bidang itu.

Kawan kalo kalian jadi pemimpin, aku ingetin, pemimpin harus mampu memahami anak buahnya, komunikasi tentu kuncinya.

*sekedar berbagi kawan

The Dream begin!

•November 21, 2007 • & Komentar

Semalam gue chatting sama teman gue, gue lagi habis kolaps dari kegiatanku yang menguras tenaga dan fikiran. Kebetulan banget dia ngasih banyak semangat2 gitu, untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahku, yang sebenarnya sudah acakadul gini. Tapi besoknya sudah semangat lagi. Sebagai tanda munculnya semangat baruku itu, akhirnya ku posting tulisanku Itu hanya mimpi!

Paginya, sebelum kuliah, iseng buka daftar film-film lama yang blum gue nonton,”Goal” judulnya. Film ini sih udah lama keluar, kebetulan aja pengen nonton jadi gue nonton deh. Yah ampun, kebetulan banget, seperti apa yang ku posting sebelumnya. Persis benar Goal!The Dream Begins.

Film ini mengisahkan seorang pemuda imigran gelap dari Mexico yang tinggal di belahan Amerika Serikat sana, yang pandai banget bermain bola, namanya Santiago Munez. Dia kemudian diliat oleh salah seorang agen yang mantan pesepakbola Inggris itu.

Tapi apa hendak dikata, ayahnya tidak setuju, dia pengen anaknya kerja menjadi tukang kebun. Tapi akhirnya neneknya memberi jalan untuk ke Newcastle untuk mengejar cita-citanya.

Sampai di sana ternyata cobaan berat juga melandanya, berusaha payah untuk mendapatkan cita-citanya itu. Sampai akhirnya keahliannya diakui sama manajer dan dijadikan pemain inti dan memberikan peluang bagi Newchastle United untuk mengikuti kejuaraan Eropa.

Di satu sisi ternyata dibalik kekerasan ayahnya yang tidak menyetujui anaknya terjun ke dunia sepakbola, ayahnya tetap merasa si Santiago ini menjadi orang yang berhasil.

Refleksi Diri

Suatu kebanggaan tersendiri buat seorang anak bisa memberikan yang terbaik dari dirinya untuk orang yang dikasihi seperti orang tua. Begitu pula denganku. Film “Goal” itu betul-betul mencerminkan diriku yang awalnya orang tuaku, ayah ibu, tidak merestui keinginanku untuk kuliah.

Tapi dengan keras kepalaku tetap melanjutkan kuliahku ini. Dan pada akhirnya ku bisa membuat orang tuaku bahagia, menunjukkan kebanggaan-kebanggaan itu bukan hanya mimpi untuk diceritakan. Tapi kenyataan yang telah terwujud.

Betapa bahagianya orang tuaku itu melihat, berkat kuliah di kampus gue sekarang, gue kenal banyak orang, dari teman kuliah, teman beda fakultas, teman2 beda kampus, sama pihak birokrasi kampus dari dekanku sampe rektorku dan wakil-wakilnya. Gue pernah ketemu sama Menteri RI dan bapak Menteri itu juga mengenalku dengan baik karena menang kita sering bertemu muka dan berurusan. Gue juga pernah ketemu dengan beberapa pejabat-pejabat, itupun dikenalkan sama pihak kampusku. Atas aktivitasku di kampus gue pernah dapat beasiswa selama kuliah di kampus ini. Atas prestasi itu gue pernah ke luar negeri merasakan indahnya jadi bule di negara orang. Semua prestasi-prestasi itu tidak lepas dari doa orang tuaku, yang sampai saat ini masih mendukungku.

Kawan mimpi itu bukan untuk dimimpikan tetapi diwujudkan.

The Dream Begin!

 

Itu hanya mimpi!

•November 19, 2007 • & Komentar

“Itu hanya mimpi” kata ibuku ke saya.

Akhirnya saya lari ke kamarku dan diam di pojokan kamar sambil meneteskan air mata keperihan itu. Cita-citaku untuk kuliah selama ini harus berhenti di sini dengan keadaan orang tuaku yang memang serba tidak punya itu, yang tidak menyetujui aku kuliah. Tetapi bekerja untuk menghasilkan uang buat diriku sendiri.

Sudah berulang kali saya mencoba memberikan penjelasan kepada orang tuaku, saya harus kuliah, kuliah, dan kuliah untuk benar-benar jadi orang sukses. Tapi lagi-lagi kalimat-kalimat “Itu hanya mimpi” yang dikeluarkan.

Kalimat-kalimat itu yang akhirnya memotivasiku sampe akhir ini, sampe benar-benar saya kuliah di salah satu PTN terkenal di Indonesia melalui ujian SPMB, walau saya lulus di pilihan kedua, bagi saya tetap menjadi kebanggaanku dan keluarga.

Kalimat-kalimat itu yang selalu ku jawab dengan “Itu bukan mimpi, tapi usaha untuk mewujudkannya”.

Pungli sana-sini!

•November 15, 2007 • & Komentar

Percakapan telpon gue sama sahabat gue dari Medan yang lagi kuliah jauh dari kota asalnya itu.

“Men, lo punya teman wartawan koran itu gak?”

“emang napa? ada sih, buat apa dulu… “

“Gini loh men, gue kan diminta sama bapak kostku tadi minta duit buat KIPPEM karena semua pengunjung musiman, kayak kita gini mahasiswa di kota ini wajib berdasarkan PERDA gitu” jelasnya.

“trus masalahnya ya apa?”

“Gini bro, biaya yang dimintai itu loh 20 ribu, padahal menurut aturan perdanya cuman 7.500 rupiah, katanya sih 5.000 buat kecamatan, 2.500 buat biaya capek pembuatanya, 3000 buat kelurahannya, yang 2000 wajar sih bukan untuk KIPPEM itu tapi untuk uang bulanan RT/RW” jelasnya.

“wah, pelanggaran itu, setauku kalo sudah ditetapkan di PERDA, mestinya sudah dianggarkan untuk biaya-biaya sampe kepada orang yang mengurusnya” heranku.

“gimana bro, punya teman wartawankan, coba deh di ulas jadi beritanya, padahal hari kemarin loh koran itu ngomong kalo biaya KIPPEM cuman 7.500 rupiah berarti sudah melakukan pembohongan publik ini” jelasnya.

“iya bro, aku ngerti tapi dia bukan wartawan bagian itu, coba deh kamu tulis di bagian “pendapat masyarakat” dll, tapi ntar gue coba tanyain deh, bisa apa ngak dia ulas beritanya” jelasku juga.

Oalah pungli sana-sini, yang selalu ada dan tidak mungkin untuk dibasmi, ya ngak?

NB : setelah menggunakan bantuan OM Google, KIPPEM adalah nama jadul dari SKTP (Surat Keterangan Tinggal Sementara).

Kenikmatan sesaat!

•November 14, 2007 • & Komentar

Gue baru aja jalan-jalan ke kampus teman gue, secara kampusnya lumayan dekat dengan kampus gue. Nah pas gue jalan tuh bareng teman gue ternyata ada perbaikan jalan gitu deh di kampusnya.

“bro, koq yang tambel cuman yang lubang-lubang doang?” tanyaku yang lugu masalah pembangunan jalan.

“yah supaya nutupin gitu” jawabnya.

“taon lalu perasaan gitu juga deh, yang lubang itu ditutupin lagi…. tiap taon koq gitu yah?” tanyaku lagi.

“yah gitu deh, padahal Rektornya loh orang yang jurusannya yang ngurus kayak gini, aku juga heran koq, tiap tahun diganti-ganti gini, apa karena emang setengah hati atau karena para kontraktor perbaikan jalan tiap taon supaya ada gawenya terus yah?” jelasnya juga agak marah gitu.

Tiba-tiba gue dan temanku itu melewati jalan menuju salah satu perumahan kampus, eh ternyata jalan aspalnya itu ditambalnya pake semen gitu. parah banget. sudah jelek jalannya, eh malah makin rusak aja jalan itu, padahal setaon yang lalu tambalnya pake aspal kualitas rendah. Apa karena memang ngak ada dana yah sampe segitunya.

“Yah gimana yah bro, seperti ini kenyataannya, pembangunan itu bukan untuk dinikmati untuk selamanya tapi dinikmatinya sesaat, ngak sampe setaon” jawab temanku dengan kesalnya.

Kata mutiara hari ini : Pembangunan itu kenikmatan sesaat.

Hati-hati milih perusahaan!

•November 14, 2007 • & Komentar

kerja: skrg ni gw jg lagi ms brslh sama temn qt jg

kerja: dia terjebak di perusahaan (dirahasiakan) yg ga jelas

kuliah: masa?

kerja: pdhl sdh ta bilangin spy te2p lurus ke perusahaan lain (dirahasiakan) bareng si cubby

kuliah: perusahaan apa sih?

kerja: kontraktor

kuliah: kenapa elo bilang itu perusahaan ngak jelas?

kerja: bukan perusahaan

kuliah: tapi apa?

kerja: masih berupa divisi

kerja: klo dapet proyek dia survive

kuliah: divisi dari??

kerja: tp klo ga,

kerja: kolaps

kuliah: wow bahaya dong, dia tau ndak?

kerja: divisi dari induk perusahaan

kerja: dah ta ksh tw, dulu gw jg ditawarin, ampe dikejar2 lg, ampe 2 mgg orgnya tlp gw

kerja: gw dah ngasih saran klo ttd kontrak perhatiin pasal2nya n klo mw kluar kna pinalti ga

kuliah: iyah sih…. dia paling lagi ceroboh.

kerja: n durasi kontraknya usahain seminimal mgkn

kerja: dulu anak UI yg ditawarin, temen sekantorq, trus dia dapet di perusahaanku skrg ini

kerja: yg di perusahaan (dirahasiakan) ditinggal

kerja: trus org perusahaan (dirahasiakan) hub gw

kerja: untgnya temenq yg UI ngasih tw

kerja: jd ga q ambil perusahaan (dirahasiakan) nya

kuliah: emang ad pinaltinya?

kerja: tp ad perjanjian

kerja: gw ga boleh ngasih tw alasannya k temen2 Univ kita

kerja: akhirnya gw bilang k si cubby n dia spy jgn ambil perusahaan (dirahasiakan)

kerja: lurus aj ke perusahaan lain (dirahasiakan)

kerja: tp gw ga bisa blg alasannya krn perjanjian itu

kerja: eh si dia ngelanggar, ya ud deh kejadian

kerja: kayanya si ad

kerja: perusahaan baru kan ga goblok, brsh nyegah spy karyawannya ga cabut masalahnya rata2 prusahaan ngasih pinalti

kerja: aplg perusahaan lain 2 (dirahasiakan) kmaren

kerja: ampe 150 juta

kuliah: wow gede amat? emang gaji juga gede yah dia.

kerja: yup

kerja: khawatirnya si dia terjebak gt, gw cm bs ngasih nasihat gt ma dia

kerja: ga

kerja: cm 2 jt

kuliah: ow

kerja: paling pinaltinya 10 juta

kerja: :D

kuliah: kerja: tp ad perjanjian

kerja: gw ga boleh ngasih tw alasannya k temen2 Univ kita >>> emang perjanjian apa tuh, sampe ngak boleh ngomong sama anak Univ kita? serumit itu kah>?

kerja: perjanjiannya klo perusahaan itu ga jelas n klo berhasil gede n klo ga, kolaps

kuliah: oh yah?

kerja: trus karyawannya cm 1 org

kuliah: wow….

kerja: kerja brat bgt bayangin proyek radar cm ditanganin 1 org. ap ga mati???

kuliah: wah jadi harus hati2 milih perusahaan… jadi ingat perusahaan yang di jakarta itu yang dinyatakan bangkrut tapi karena ada orang2 tertentu yang masih saja memberikan informasi lowongan pekerjaan di perusahaan itu. banyak yang tertipu, kayaknya beritanya masih hangat

kuliah: elo kayaknya cerita2 ini patut elo kirim ke milist deh, ngak usah terlalu open (ngak usah ceritakan detil) cukup elo ngomong berhati2 dan tipz supaya ngak ketipu gitu…. sekedar berbagi bagi teman2 yang lagi cari kerja.

kerja: mgkn ad baiknya elo aj yg posting, biar temen2 percaya

kuliah: kerja: biar temen2 percaya>>> hehehe koq bisa dari gue baru dipercaya secara gue masih kul gitu loh… hehehe :)

kerja: masalahnya kan posi2mu tuh admin

kuliah: okeh deh….

(Chatting nyata nih antara 2 teman, satunya masih kerja, satunya masih kuliah, tapi tanpa skrinsyut semoga menjadi pelajaran aja, beberapa di edit demi kemaslahatan umat)

Memimpin itu sebuah tanggung jawab!

•November 13, 2007 • & Komentar

 

 

Sebuah film jadul 2003 berjudul “The Core” yang baru saja aku nonton, mengingatkanku pada sebuah arti kepemimpinan sejati. Film yang bercerita tentang kondisi bumi yang disebabkan oleh kejadian alam yang mengharuskan untuk membenarkan kembali rotasi pergerakan inti bumi.

Semua movie drama yang memang secara teknis visual bagus dan pesan moral sungguh menyentuh mata hati kita. Salah satu kalimat yang terucap adalah

“Pemimpin itu dipilih bukan karena kemampuan tapi karena tanggung jawabnya”.

Nilai moral yang benar-benar nancep di hatiku dengan kondisiku akhir-akhir ini yang memikul banyak amanah yang harus ku selesaikan.

Aku sadar memang kemampuanku biasa-biasa saja lebih dari teman-temanku yang ku pimpin, tapi karena tanggung jawab akhirnya kepemimpinan itu diserahkan tanggung jawab.

Moga kepemimpinan yang aku emban ini bisa memberikan manfaat buat semuanya.

 

Magang mencetak orang jadi tukang!

•November 11, 2007 • & Komentar

Maklum gue masih muda banget untuk bekerja di kantor ini. Dan orang-orang masih melihat kekagumannya sama gue koq bisa-bisanya gue kerja di kantor ini padahal susah banget masuknya dan umur juga masih seumuran jagung. Bukannya mau sombong tapi emang dulunya (sekarang otak gue buntu cuman bisa ngeblog doang) gue siswa terpintar di sekolah gue, dan katanya sih nilai tes gue paling tinggi pas penerimaan di kantor itu.

Awal-awal kerja gue blum tau apa-apa yang mau dikerja secara gue baru lulus dan langsung dihadapi dengan dunia kerja, psikologinya gimana gitu loh. Frame berfikirku juga ngomong kalo aku masih muda bergaul sama yang muda-muda aja.

Nah pas gue masuk itu kebetulan ada siswa SMK jurusan akuntansi gitu yang lagi PKL aka magang gitu. Sempat kenalan dengan mereka-mereka dan gue liat ada satu yang lumayan lah.

Karena masih merasa sebagai anak ABG yang baru lulus SMA dan ketemunya sama cewek-cewek SMA jadi merasa seumuran dan ngomongnya masih rada-rada nyambung gitu. Jadinya sering-sering ketemu dan ngobrol, walau sebagian manggil pak (masih kikuk juga dipanggil pak, maklum darah muda) tapi mereka akrab dengan gue.

Akhirnya akrab juga dan mereka sangat enjoy juga ketemu dengan gue. Sambil curhat-curhat tentang orang-orang di kantor, siapa yang cerewet, siapa yang suka marah-marah, siapa yang baik hati, siapa yang suka cuek dan suka yang suka menyuruh-nyuruh mereka. Yah itu ternyata mereka kadang disuruh sama teman kantorku buat fotocopi, buat teh atau kopi, padahal mereka loh datang ke sini buat PKL dan bidang kerjanya akuntansi.

Parahnya lagi kalo ada acara-acara di luar, misalnya mantenan atau acara syukuran, semua pegawai kantoran pergi semua dan mereka meninggalkan siswa2 PKL itu menjaga kantor.

Apa? mereka tukang?

Apa karena mereka masih muda jadi mudah juga disuruh-suruh?

Apa karena kebelet akan hasil laporan yang harus baik kepada pihak sekolahnya jadi mereka mau aja?

Apa karena adanya mereka disuruh kerja sesuai bidangnya kerjaan makin lambat? atau malah mempersulit?

Apa karena ngak ada kerjaan lain jadinya mereka disuruh?

Itu paradigma yang salah terhadap perlakukan siswa ataupun mahasiswa yang lagi PKL, jika memang PKL atau magang atau ada namanya Kerja Praktek atau Kerja Lapangan harusnya sesuai dengan bidang keilmuan.

Gini-gini juga gue pernah pas kuliah magang atau Kerja Lapangan di Kantor BUMN milik pemerintah, tapi gue benar-benar merasakan itu adalah magang sesungguhnya, kita di training dan diberi penjelasan yang sesuai dengan bidang keilmuan kita. Tidak ada sama sekali penyuruh untuk menjadi babu di kantor itu.

Memang kayaknya paradigma magang di kantor ku itu harus diubah sesuai amanah pihak sekolah atau universitas yang dibebankan ke kantor itu.